Rumah Modular untuk Huntara, Solusi Cepat Saat Korban Bencana Butuh Hunian Layak

Setelah bencana terjadi, kebutuhan paling mendesak bukan hanya bantuan makanan dan obat-obatan. Ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal juga membutuhkan ruang yang aman untuk kembali menjalani kehidupan.

Persoalannya, membangun hunian baru secara konvensional membutuhkan waktu, tenaga kerja, material, dan logistik yang tidak sedikit. Kondisi tersebut membuat teknologi rumah modular mulai mendapat perhatian sebagai salah satu alternatif untuk menyediakan hunian sementara atau huntara bagi masyarakat terdampak bencana.

Salah satu contohnya diperkenalkan melalui rumah modular tipe 27 meter persegi yang menjalani soft launching oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) di Rumah Budaya Betawi, Cipondoh, Kota Tangerang, Banten, pada 17 April 2026.

Rumah tersebut dikembangkan bukan hanya untuk mendukung program pembangunan tiga juta rumah, tetapi juga diarahkan untuk menjawab kebutuhan hunian masyarakat, termasuk korban bencana.

Ketika Kecepatan Menjadi Kebutuhan

Dalam situasi pascabencana, waktu memiliki nilai yang berbeda.

Masyarakat yang kehilangan rumah tidak bisa menunggu proses pembangunan berbulan-bulan sebelum memperoleh tempat tinggal yang layak. Karena itu, metode konstruksi yang dapat mempercepat proses pembangunan memiliki nilai strategis.

Direktur Penyiapan Lahan dan PSU Kementerian PKP, Indra Gunawan, menilai rumah modular memiliki potensi besar karena proses pemasangannya dapat dilakukan secara cepat di lokasi.

“Potensi rumah modular sangat besar karena proses konstruksinya cepat. Unitnya tinggal dirakit di lokasi sehingga efisien waktu,” ujar Indra.

Konsep tersebut menjadi salah satu keunggulan utama konstruksi modular.

Sebagian proses pembuatan komponen dilakukan terlebih dahulu, kemudian komponen dibawa ke lokasi dan dirakit menjadi satu kesatuan bangunan.

Dengan metode tersebut, pekerjaan di lapangan dapat ditekan dibandingkan konstruksi yang seluruh prosesnya dilakukan langsung di lokasi.

Rumah Modular Bukan Sekadar Rumah Cepat Jadi

Istilah “modular” sering kali membuat orang membayangkan bangunan sederhana yang hanya ditujukan untuk penggunaan sementara.

Padahal, konsep modular dapat dikembangkan menjadi hunian yang memiliki fungsi layaknya rumah pada umumnya.

Rumah modular tipe 27 meter persegi yang diperkenalkan di Tangerang menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi tersebut mulai diarahkan untuk kebutuhan hunian masyarakat.

Menurut Indra, rumah modular tersebut diharapkan memiliki daya tahan hingga 50 tahun dan mampu menghadapi kondisi lembap yang umum ditemukan di Indonesia. Teknologi tersebut juga dinilai memiliki potensi untuk mendukung penataan kawasan kumuh dan bahkan dapat dikembangkan menjadi hunian vertikal hingga empat lantai.

Artinya, modular tidak selalu identik dengan bangunan darurat.

Teknologi ini dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan apabila desain, struktur, material, dan sistem pemasangannya dirancang sesuai fungsi bangunan.

Cocok untuk Huntara Pascabencana?

Konsep rumah modular menjadi menarik ketika dikaitkan dengan kebutuhan hunian sementara pascabencana.

Huntara pada dasarnya dibutuhkan sebagai jembatan bagi masyarakat sebelum mereka mendapatkan hunian tetap. Karena sifatnya sementara, pembangunan huntara harus memperhatikan kecepatan, biaya, keamanan, kenyamanan, serta kemudahan distribusi.

Di sinilah konstruksi modular memiliki peluang.

Komponen dapat diproduksi terlebih dahulu dan kemudian dikirim ke wilayah terdampak untuk dirakit. Jika sistem produksinya sudah siap, proses tersebut dapat mengurangi pekerjaan konstruksi basah di lokasi.

Namun, kecepatan tetap bukan satu-satunya faktor.

Wilayah bencana sering memiliki persoalan akses jalan, kondisi tanah, ketersediaan listrik dan air, hingga jarak dari pusat produksi material.

Karena itu, keberhasilan rumah modular sebagai huntara juga sangat bergantung pada rantai pasok dan kesiapan lokasi.

Pemasangan Sekitar Tiga Hari per Unit

Direktur PT Songsong Indonesia Emas, Ricky A. D., menyebut rumah modular yang diperkenalkan tersebut memiliki waktu pemasangan relatif singkat.

“Pemasangannya relatif cepat, sekitar tiga hari per unit. Struktur bangunannya kokoh, tahan gempa, dan ramah lingkungan,” ujarnya.

Waktu pemasangan sekitar tiga hari menjadi salah satu aspek yang menarik untuk kebutuhan rekonstruksi.

Jika dibandingkan dengan pembangunan konvensional yang membutuhkan berbagai pekerjaan secara bertahap, sistem perakitan modular berpotensi memangkas waktu pekerjaan di lapangan.

Tetapi angka tersebut tetap perlu dipahami sebagai waktu pemasangan unit berdasarkan sistem dan produk yang diperkenalkan, bukan patokan universal untuk semua rumah modular.

Kondisi pondasi, akses lokasi, kesiapan komponen, tenaga pemasang, dan pekerjaan utilitas dapat memengaruhi durasi proyek.

Mengurangi Ketergantungan pada Tenaga Kerja Lapangan

Selain waktu, rumah modular juga berpotensi mengurangi kebutuhan pekerjaan konstruksi yang sangat bergantung pada tenaga kerja di lokasi.

Pada metode konvensional, banyak pekerjaan seperti pemotongan material, perakitan, dan finishing dilakukan di proyek.

Dalam sistem modular, sebagian proses dapat dipindahkan ke lingkungan produksi yang lebih terkendali.

Dampaknya, pekerjaan di lapangan dapat lebih terfokus pada pemasangan dan penyelesaian komponen.

Bagi daerah yang baru mengalami bencana, pendekatan tersebut dapat menjadi keuntungan karena ketersediaan tenaga konstruksi lokal mungkin terbatas.

Namun, tenaga ahli tetap diperlukan untuk memastikan pemasangan struktur, sambungan, dan komponen bangunan dilakukan sesuai spesifikasi.

Sandwich Panel dan Konstruksi Modular

Dalam perkembangan konstruksi modular, sandwich panel juga menjadi salah satu material yang menarik karena dapat digunakan sebagai elemen dinding dan atap pada berbagai sistem bangunan prefabrikasi.

Sandwich panel umumnya terdiri atas dua lapisan permukaan dengan material inti di antara keduanya. Tergantung desainnya, bagian inti dapat menggunakan EPS, polyurethane atau PU, maupun rockwool.

Salah satu keunggulan yang dicari dari sistem panel adalah bobot yang relatif ringan serta kemudahan pemasangan.

Karakteristik tersebut dapat mendukung konsep bangunan modular karena komponen dapat diproduksi dalam ukuran tertentu dan kemudian dirakit di lokasi.

Namun, penggunaan sandwich panel untuk huntara tetap harus disesuaikan dengan kondisi wilayah.

Daerah dengan risiko gempa, misalnya, membutuhkan perhatian khusus pada sistem rangka, sambungan panel, fondasi, serta pengikat. Panel dinding tidak boleh otomatis dianggap sebagai struktur utama tahan gempa hanya karena materialnya ringan.

Ketahanan bangunan harus dihitung sebagai sebuah sistem.

Tangerang Melihat Peluang untuk Bedah Rumah

Potensi rumah modular ternyata tidak hanya dilihat untuk daerah bencana.

Wakil Wali Kota Tangerang, Maryono Hasan, menyebut konsep tersebut dapat menjadi salah satu alternatif untuk program bedah rumah di wilayahnya.

Menurut Maryono, Pemerintah Kota Tangerang telah melakukan bedah rumah sebanyak 10.893 unit. Rumah modular dinilai dapat menjadi salah satu opsi untuk mempercepat pelaksanaan program tersebut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap metode pembangunan cepat tidak hanya muncul setelah bencana.

Program perumahan masyarakat berpenghasilan rendah, penataan kawasan kumuh, pembangunan hunian baru, hingga rekonstruksi pascabencana memiliki persoalan yang sama: bagaimana menyediakan rumah layak dalam jumlah besar dengan waktu dan sumber daya yang terkendali.

Tantangan Terbesar Justru Setelah Rumah Jadi

Meski menawarkan banyak keunggulan, rumah modular bukan solusi yang dapat diterapkan begitu saja di semua daerah.

Perencanaan tetap harus memperhitungkan kondisi tanah, iklim, akses transportasi, ketersediaan utilitas, kebutuhan ruang, serta standar keselamatan.

Untuk wilayah rawan gempa, desain struktur dan sambungan harus mendapatkan perhatian khusus.

Sementara di daerah dengan kelembapan tinggi, pemilihan material dan detail perlindungan terhadap air menjadi penting.

Artinya, rumah modular yang ideal bukan sekadar rumah yang bisa dirakit dengan cepat.

Rumah tersebut harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi tempat ia dibangun.

Dari Huntara Menuju Hunian Tetap

Salah satu peluang menarik dari teknologi modular adalah kemungkinan mengembangkan konsep hunian secara bertahap.

Sebuah unit dapat digunakan sebagai hunian sementara pada tahap awal. Ketika kondisi masyarakat sudah pulih dan kebutuhan berubah, konsep modular dapat dikembangkan atau diperluas sesuai perencanaan.

Pendekatan seperti ini dapat mengurangi anggapan bahwa huntara selalu berakhir sebagai bangunan yang kemudian ditinggalkan.

Namun, kemungkinan pengembangan tersebut sangat bergantung pada desain awal, sistem struktur, lahan, dan regulasi setempat.

Teknologi yang Perlu Diuji, Bukan Sekadar Dipromosikan

Perkembangan rumah modular di Indonesia menunjukkan bahwa industri konstruksi sedang mencari cara baru untuk menjawab kebutuhan hunian dalam jumlah besar.

Pemerintah melihat potensinya untuk program perumahan dan pemulihan pascabencana. Pelaku industri melihat peluang efisiensi waktu pemasangan. Masyarakat membutuhkan rumah yang cepat tersedia tetapi tetap layak dan aman.

Ketiganya harus bertemu dalam satu titik: kualitas bangunan.

Rumah modular tipe 27 meter persegi yang diperkenalkan di Tangerang menjadi salah satu contoh awal. Namun, penerapan dalam skala besar membutuhkan evaluasi lebih lanjut mengenai biaya total, umur layanan, ketahanan struktur, distribusi material, perawatan, serta kesesuaian dengan karakteristik setiap wilayah.

Pada akhirnya, teknologi modular bukan hanya tentang membuat rumah lebih cepat.

Teknologi ini menawarkan cara berbeda dalam memproduksi hunian: sebagian pekerjaan dilakukan sebelum bangunan tiba di lokasi, kemudian komponen dirakit menjadi sebuah rumah.

Jika dikembangkan dengan standar yang tepat, pendekatan tersebut berpotensi menjadi salah satu pilihan untuk hunian sementara pascabencana, program bedah rumah, kawasan relokasi, hingga pembangunan hunian masyarakat dalam skala besar.

Bagi korban bencana, manfaat terbesarnya sederhana: ketika rumah hilang dalam hitungan menit, teknologi konstruksi yang mampu menyediakan tempat tinggal kembali dalam waktu jauh lebih singkat dapat menjadi bagian penting dari proses pemulihan.